Pis Bolong yang berbentuk uang logam dengan lubang segi empat di tengah
dibuat dari campuran logam seperti perunggu (hitam), tembaga (merah),
atau kuningan (kuning). saat ini sudah ada Pis bolong dengan campuran
logam "Panca Datu" yaitu: emas (kuning), Perak (putih), Tembaga ( merah), Perunggu (hitam) dan dominan logam kuningan.
Melihat dari huruf yang tertera pada Pis Bolong ini tentunya sudah dapat
diketahui dari mana asal mula Pis Bolong ini. Pis Bolong ini
diperkirakan datang dari negeri Cina pada jaman kejayaan Majapahit untuk
dijadikan alat pembayaran.
Kegunaan Pis Bolong pada saat ini tidak untuk alat pembayaran lagi tapi
berfungsi sebagai Pis Sandangan dalam Upacara-upacara besar atau Sesari
pada Kewangen. Pis Sandangan yang dibungkus dengan tapis dan diikat
dengan anyaman dari bambu atau penyalin (rotan) sehingga berbentuk mirip
kendi air. Jumlah keping dalam Pis Sandangan ini adalah SEPA SATUS
( Seribu Tujuh Ratus). Lebih kecil dari Pis Sandangan ini ada yang
disebut Pis Andel Andel yang diikat dengan benang Tridatu sebanyak dua
ratus keping. Pis Andel Andel digunakan dalam upacara yang lebih kecil.
Selain itu Pis Bolong juga digunakan saat Ngajum Sekah pada upacara
Ngaben yang ditempatkan di atas kain putih yang telah digambari
menyerupai anatomi tubuh manusia dan ditempel menggunakan jarum.
Selain sebagai alat transaksi pembayaran dan upacara, menurut penuturan
para tetua di Bali bahwa Pis Bolong yang memiliki keunikan dan ciri
tertentu selalu menjadi incaran.
adapun Pis bolong ( Uang Kepeng ) yang beredar dibali, terutama yang tersohor di kalangan penggemar benda kuno ini adalah:
Pia Arjuna
Pis Arjuna mentang panah
- Pis Pis Arjuna
- Pis Arjuna mentang panah
- Pis Arjuna Supraba
- Pis Arjuna menunggang kuda
- Pis Kresna
- Pis Yudistira
- Pis Bima
- Pis Panca Pandawa
- Pis Malen (tualen)
- Pis Sangut
- Pis Hanoman
- Pis Siwa
- Pis Gana (Ghanesa)
- Pis Jaran (kuda)
- Pis Gajah
- Pis Jaring
- Pis Bulan
- Pis Dewata Nawa Sanga
- Pis Padma (teratai)
Panca Aksara (pancaksara Nama siwaya) adalah lima aksara suci sebagai karunia tersendiri dalam menyelamatkan jiwa dari belenggu pikiran dan belenggu samsara yang merupakan bagian dari Wijaksara aksara suci dalam kajang yang berdasarkan tata letak/komposisi sebagai simbol komunikasi, secara immanent dan transendental serta sebagai esensial dari mantra.
Panca Datu atau pancadatu adalah dasar kepercayaan yang disimbolkan dalam lima unsur logam sebagaimana dikisahkan dalam tapak - tapak suci Sang Maharsi Markandeya bersama pengikutnya untuk memohon keselamatan dalam menelusuri tanah Bali dwipa dan melakukan pengembangan komplek Pura Besakih. Logamnya antara lain Emas, Perak,Kuningan, tembaga, Besi/Baja






Comments
Post a Comment